Baznas Sudah Bedah 16 RTLH

Tahun 2023 ini, Baznas Kabupaten Kulon Progo ditargetkan akan membedah rumah sebanyak 50 rumah. Dari Januari hingga Mei 2023 ini sudah terbedah 16 rumah.

"Proposal bedah rumah yang diterima Bagian Kesra Setda masih banyak, karena masing-masing proposal yang masuk harus disurvei dahulu layak tidaknya untuk dibedah," ujar Widiastuti Waka IV Baznas Kulonprogo, Rabu (07/05/2023).

Dalam suatu kesempatan Bedah Rumah beberapa waktu lalu, Pj Bupati Kulonprogo Ni Made Dwipanti Indrayanti ST MT menyerahkan bantuan dari Baznas Kulonprogo sebanyak Rp 60 juta (@ Rp 20 juta) diserahkan Pj Bupati kepada tiga penerima yakni Sudiyono Siwalan dan Dwi Fajariyanto Semen Sentolo, serta Rocmadi Setapan Pleret Panjatan.

Dikatakan bahwa salah satu persoalan kemiskinan saat ini adalah rumah tidak layak huni (RTLH) yang di Kabupaten Kulonprogo tercatat sebanyak 7.100 RTLH (Hasil Pendataan RTLH oleh Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman/DPU PKP Kulonprogo tahun 2022). Jumlah rumah yang telah direhab sampai dengan bulan Mei 2023 ini sebanyak 1.316 unit dengan bantuan stimulan sebesar Rp 13 miliar dan swadaya masyarakat yang terserap sebesar Rp. 39,6 miliar.

Dwipanti Indrayanti menuturkan bahwa Pemkab Kulonprogo terus berupaya mengurangi angka kemiskinan dengan perbaikan RTLH menjadi layak huni dan sehat, sehingga dapat produktif untuk meningkatkan perekonomian. Gerakan kepedulian dan kesetiakawanan sosial untuk mengatasi RTLH telah dicanangkan Bupati Kulonprogo pada 23 Desember 2011.

"Saya menghimbau, agar warga masyarakat tetap menghidupkan budaya Gotong-Royong di lingkungannya, sehingga pembangunan atau perbaikan rumah cepat selesai dan jumlah rumah layak huni berkurang. Sebab melalui gotong royong sudah terbukti merupakan kekuatan yang ampuh untuk saling membantu, saling peduli dan saling meringankan beban sesama manusia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Pemkab dalam hal ini melalui Baznas hanya bisa memberikan dana stimulan sebesar Rp 20 juta per unit rumah, untuk selanjutnya renovasi atau pembangunan rumah tidak layak huni dikerjakan dengan cara gotong royong. Masyarakat sekitar pada umumnya dengan suka rela akan memberikan bantuan dalam bentuk material bangunan, bantuan tenaga, bantuan konsumsi kerja bakti, dan lainnya.